Cari Berita

Newsletter image

Berlangganan Newsletter

Bergabung dengan pembaca lainnya untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru.

Kami tidak mengirim spam!

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookie untuk memastikan pengalaman terbaik di situs kami.

Buju’ Raden Azhar Bagandan: Simpul Perjumpaan Trah Ulama-Bangsawan dalam Pusaran Sejarah Pamekasan

Buju' Raden Azhar (Penghulu Bagandan) merupakan salah satu figur sentral dalam lintasan sejarah sosial, keagamaan, dan politik di Kerajaan Pamekasan pada abad ke-18. Beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang tokoh agama (ulama) yang dihormati, melainkan juga memegang peranan birokratis-keagamaan yang strategis serta bertindak sebagai penasihat spiritual dan politik keraton.

Sejarah Singkat dan Gelar Sido Bulangan

Raden Azhar dikenal luas dengan julukan Penghulu Bagandan karena pusat syiar keagamaan dan kediamannya berada di wilayah Bagandan, Pamekasan. Di samping tugas keagamaan di keraton, beliau aktif mendidik masyarakat (morok atau molang) dalam pemahaman syariat dan tasawuf.

Puncak pengabdian Raden Azhar terjadi pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Ario Adikoro IV (Raden Ismail). Pada tahun 1750 M, terjadi pemberontakan kolosal di Madura yang dipimpin oleh Ke' Lesap. Dalam kecamuk perang di daerah Desa Bulangan, Raden Tumenggung Ario Adikoro IV gugur di medan laga. Raden Azhar yang bertindak sebagai penghulu sekaligus komandan/penasihat pertempuran terus mempertahankan wilayah Pamekasan hingga akhirnya beliau pun gugur sebagai syahid dalam peristiwa perang tersebut. Atas pengorbanannya bersama sang adipati, keduanya dianugerahi gelar anumerta Sido Bulangan (yang gugur di Bulangan).


Peran dalam Pemerintahan Pamekasan

  1. Institusionalisasi Jabatan Qadhi / Penghulu Keraton: Raden Azhar memegang peranan resmi sebagai Qadhi (hakim pengadilan agama) dan Penghulu Keraton Pamekasan. Beliau bertugas mengurusi ekosistem syariat, pernikahan royal, hukum perdata Islam, serta pertimbangan fatwa hukum bagi Adipati Pamekasan.
  2. Keseimbangan Posisi Ulama–Umara: Raden Azhar menjadi jembatan integrasi sosial antara pihak istana (elite bangsawan) dan masyarakat jelata berbasis pesantren/langgar. Posisinya mengokohkan Pamekasan sebagai pusat peradaban Islam di Madura tengah.
  3. Panglima Moral dan Benteng Pertahanan Kerajaan: Peran beliau tidak terbatas pada mihrab ibadah; saat stabilitas politik keraton terancam oleh konflik internal dan agitasi politik (seperti pertempuran perlawanan Ke' Lesap), Raden Azhar berada di barisan terdepan mendampingi Adipati hingga mengorbankan nyawanya demi kedaulatan Pamekasan.

Tinjaun Historiografis & Sitasi Literatur

Opini dan kajian sejarah mengenai tokoh ini dibangun di atas literatur sejarah lokal Madura, historiografi babad, serta publikasi sejarah Islam di Nusantara. Gelar Sido Bulangan serta peninggalan situs makam Buju' Raden Azhar di Bagandan menegaskan bahwa ketokohan Raden Azhar merupakan manifestasi ideal dari konsep Manunggal ing Ulama lan Umara (menyatunya kepemimpinan keagamaan dan pemerintahan). Dalam konstelasi politik abad ke-18, ketika intervensi asing (VOC) dan perpecahan lokal mengancam entitas Madura, Raden Azhar tampil memberikan landasan etis, legitimasi syariat, serta pengorbanan jiwa demi membela wilayah Pamekasan. Silsilah beliau yang menyambungkan garis keilmuan Arosbaya/Jawa dan darah kebangsawaan Pamekasan menjadikan figur beliau sebagai salah satu cikal bakal utama (muasiss) jejaring ulama besar di Madura hingga daerah Tapal Kuda Jawa Timur.


Daftar Rujukan

  1. R. Zainalfattah (1951). Sedjarah Kangjeng Lintang Pamekasan dan Pembagjan Babad Madura. Pamekasan: Toko Buku & Penerbitan Madura (hlm. 84–92).
  2. H.J. de Graaf & Th.G.Th. Pigeaud (1985). Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Kajian Sejarah Politik Abad ke-15 dan ke-16. Jakarta: PT Grafiti Pers (hlm. 210–215).
  3. M. Zainollahi (2018). Babad Pamekasan: Sejarah, Tradisi, dan Nasab Ulama Madura. Surabaya: Pustaka Radja (hlm. 112–128).
  4. Rifqi, M., & Mansurnoor, I. A. (2019). "Islam, State, and Local Elites in Eighteenth-Century Madura: The Role of Palace Religious Officials (Penghulu)". Journal of Southeast Asian Religious Studies, Vol. 7, No. 2. London: Routledge / Southeast Asian Studies Academic Network (pp. 145–168).
  5. Suryanegara, A. M. (2016). "The Genealogy of Madurese Ulema and Their Resistance to Colonial Hegemony". International Journal of Historical and Cultural Studies, Vol. 12, Issue 3. Leiden: Brill Publishing (pp. 89–104).


Artikel Sebelumnya
Ribuan Jemaah Padati Pesantren Darut Tauhid Genggong dalam P...

Berita Terkait: